"Berbuat baiklah, karena kita
tidak pernah tahu kapan kita menjadi penolong atau justru membutuhkan
pertolongan."
Sekitar tiga puluh tahun yang lalu,
ketika jalan tol belum membelah Pulau Sumatra, perjalanan dari Medan menuju Padang
bukanlah perjalanan yang singkat. Jalanan yang berkelok, perbukitan yang
menjulang, dan hutan yang lebat menjadi teman sepanjang perjalanan. Meski
melelahkan, setiap kilometer menyuguhkan pemandangan yang begitu indah.
Saat itu kami sekeluarga berangkat
berlibur ke Padang menggunakan mobil. Tidak pernah kami sangka, perjalanan itu
akan mengajarkan sebuah pelajaran hidup yang terus saya kenang hingga hari ini.
Menjelang siang, ketika mobil kami
melintasi jalan menuju Danau Singkarak, tampak seorang pemuda sedang mendorong
sepeda motornya. Di sampingnya berjalan seorang ibu yang terlihat lemah dan
pucat. Jalan begitu sepi. Tidak ada bengkel, tidak ada kendaraan lain yang
dapat dimintai bantuan.
Ayah menghentikan mobil.
"Ke mana, Dik?" tanyanya.
Pemuda itu menjawab dengan napas
tersengal.
"Saya ingin membawa ibu ke
puskesmas, Pak. Tapi motor saya mogok."
Tanpa berpikir panjang, ayah
berkata, "Kalau begitu, biar kami antar ibu ke puskesmas. Kamu urus dulu
motormu."
Mata pemuda itu langsung berbinar.
Dengan penuh rasa syukur ia membantu ibunya naik ke dalam mobil kami, sementara
ia tetap mendorong sepeda motornya mencari bengkel.
Beberapa waktu kemudian kami tiba di
puskesmas dan mengantar sang ibu hingga mendapatkan penanganan. Tidak lama
berselang, pemuda itu datang dengan sepeda motornya yang telah selesai
diperbaiki.
Ia berkali-kali mengucapkan terima
kasih.
"Pak, izinkan saya mengganti
ongkos perjalanan ini."
Sambil menyodorkan beberapa lembar
uang, ia memohon agar kami menerimanya.
Ayah hanya tersenyum.
"Simpanlah uang itu untuk
membeli obat ibumu. Kami membantu bukan untuk dibayar."
Pemuda itu menundukkan kepala.
Matanya berkaca-kaca. Barangkali hari itu ia menyadari bahwa masih ada orang
yang bersedia menolong tanpa mengharapkan balasan.
Kami pun melanjutkan perjalanan
dengan hati yang damai.
Beberapa hari kemudian, tibalah
saatnya kami pulang menuju Medan.
Perjalanan melewati kawasan Toba
berlangsung tenang hingga tiba-tiba terdengar suara benturan dari bawah mobil.
Dug...
dug... dug...
Salah satu ban mobil kami kempes.
Kami berhenti di tepi jalan. Di kiri
dan kanan hanya ada hutan. Tidak tampak rumah, bengkel, ataupun kendaraan yang
melintas.
Saya segera mengambil dongkrak dan
membuka ban yang bocor. Namun setelah ban berhasil dilepas, kami baru menyadari
bahwa menambalnya bukan perkara mudah. Tarutung masih cukup jauh, sementara
jalan tetap sunyi.
Menit demi menit berlalu.
Harapan mulai menipis.
Tiba-tiba dari kejauhan muncul
sebuah Toyota Starlet hitam yang melaju cukup kencang. Mobil itu sempat
melewati kami, lalu berhenti beberapa meter di depan. Seorang pria turun dan
berjalan menghampiri.
"Ada masalah, Pak?"
Saya menjelaskan bahwa ban mobil
kami bocor dan kami tidak tahu harus membawanya ke mana.
Beliau tersenyum.
"Naik saja. Saya antar ke tempat
tambal ban di Tarutung."
Tanpa mengenal siapa kami, tanpa
bertanya macam-macam, ia menawarkan bantuan dengan begitu tulus.
Saya membawa ban yang bocor ke
mobilnya, lalu kami berangkat menuju Tarutung. Sesampainya di tempat tambal
ban, ia bahkan ikut membantu menurunkan ban dari mobil.
Setelah semuanya selesai, saya
mengucapkan terima kasih sambil menyodorkan sejumlah uang sebagai pengganti
ongkos dan bensin.
Beliau menggeleng pelan.
"Tidak usah."
Saya tetap memaksa, tetapi ia hanya
tersenyum.
"Kalau nanti Bapak bertemu
orang lain yang membutuhkan bantuan, tolonglah mereka seperti hari ini."
Sebelum saya sempat menjawab, ia
masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja.
Saya memandangi Starlet hitam itu
hingga menghilang di balik tikungan.
Saat itulah saya benar-benar
memahami arti sebuah kebaikan.
Beberapa hari sebelumnya kami
menjadi penolong bagi seseorang yang sedang kesusahan.
Kini, dalam keadaan yang berbeda,
Tuhan menghadirkan seseorang yang menjadi penolong bagi kami.
Seolah-olah kehidupan sedang mengajarkan
bahwa setiap kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia berputar, berpindah
dari satu hati ke hati yang lain, dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Mungkin kami tidak akan pernah
bertemu lagi dengan pemuda di Danau Singkarak ataupun pria pemilik Starlet
hitam di Tarutung.
Namun saya percaya, mereka adalah
orang-orang yang dihadirkan Tuhan untuk mengingatkan bahwa dunia akan selalu
menjadi tempat yang lebih baik selama masih ada manusia yang rela berhenti
sejenak untuk menolong sesamanya.
Kini, puluhan tahun telah berlalu.
Jalan-jalan sudah berubah, kendaraan
semakin modern, dan perjalanan Medan–Padang jauh lebih mudah dibandingkan
dahulu.
Namun dua peristiwa itu tetap hidup
dalam ingatan saya.
Karena saya belajar bahwa kebaikan bukanlah tentang seberapa besar
bantuan yang kita berikan, melainkan tentang ketulusan saat melakukannya.
Dan saya percaya, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak
pernah berhenti pada satu orang. Ia akan terus berputar, menginspirasi, dan
suatu hari kembali kepada kita dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita duga.
Jakarta, 29 Juli 2026